TENTANG KEHILANGAN
Tahun ini di bulan Januari aku melihat orang yang aku sayang hancur. Dunia nya tiada. Katanya seorang laki-laki akan kehilangan rumahnya ketika kehilangan ibunya. Ya, walaupun orang itu tidak menangis tapi bisa nampak dari wajahnya yang kehilangan secara fisik. Yang menangis malah diriku.
Ternyata begini ya jadi wanita? Walaupun orang dari aku kecil menilai aku sangat bagus berlogika di akademik, tapi kalau sudah soal hati bodoh juga.
Aku yang anak perempuan pertama dan selalu di didik seperti layaknya VOC tetap saja jika kesakitan dan sudah terlalu berat ada air mata yang tidak bisa terbendung.
Membaca buku self-improvement adalah favoritku semenjak aku mudah depresi, ternyata sangat menenangkan. Menemukan banyak filosofi hidup dari buku-buku yang aku baca kemudian aku share insightnya.
Salah satunya soal mencintai manusia, terkadang kita harus siap kehilangan secara fisik maupun emosional.
Walaupun kamu tahu ketika kehilangan secara fisik "Raganya kembali ke sang pencipta (Pulang ke Rahmatullah = Pulang ke Rahmatnya Allah) namun jiwanya tetap bersama orang yang disayangi."
Berbeda ketika kehilangan secara emosional. Raganya tetap ada dan masih hidup namun kamu sudah tidak bisa bersama lagi karena sudah kehilangan jiwanya.
Kalau mencintai sesuatu didunia ini pada akhirnya akan terasa menyakitkan. Lalu apa poinnya mencintai sesuatu di dunia ini?
Maka pada akhirnya kebaikan akan datang dengan sendirinya.
Komentar
Posting Komentar